You are not logged in.
@ pak mustofa
dilihat dari spek teknisnya, sepertinya memang hadrware sudah mencukupi, namun kita pun harus memikirkan software yang diinstalkan, haruslah didesign fit n proper di mesin tersebut, jangan sampai misalnya, kita membuat program berbasis flash untuk menampilkan daftar caleg, kemudian memory nya disimpan di NAND Flash, baru 10 pemilih, memorynya habis.
keterbatasan resource harus kita optimalkan betul.![]()
@lyan
kurang lebih saya setuju dengan pendapat anda, permasalahan umum yang sering menjadi kendala adalah, kemampuan SDM untuk memanfaatkan sistem, apalagi mengenai teknologi.
seharusnya KPU merangkul SDM yang capable, misal dari komunitas IT dll, daripada sekedar hanya merekrut secara acak dan melakukan training yang sangat singkat. pasti akan banyak terkendala![]()

Offline
@ si_faisal
Untuk software-nya saya cenderung agar KPU menyelenggarakan kompetisi secara terbuka sehingga dapat diikuti oleh banyak pihak, mulai dari siswa, mahasiswa, penghobi pemrograman komputer, sampai praktisi pemrograman komputer. 10 besar peserta ditetapkan sebagai pengembang bersama untuk menyempurnakan sistem yang dinyatakan sebagai pemenang.
Sistem tersebut sedapat mungkin harus melibatkan sistem lain, termasuk sistem operasi, seminimal mungkin. Kode sumbernya harus terbuka (diserahkan kepada KPU) dan dapat diaudit sehingga tidak dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu yang akan melakukan kecurangan.
Untuk memungkinkan banyak pihak terlibat dalam pengembangan sistem tersebut, SBC yang digunakan dapat saja yang berbasis intel 80386 seperti berikut.
PCM-9132V Specifications
General
* CPU embedded 386-SX compatible CPU,40MHz
* Chipset include in CPU
* BIOS 128KB Flash with 3 seconds boot
* System Memory on-board 4MB EDO DRAM
* SSD support M-System DiskOnChip 8MB-1GB
* support DiskOnModule 16MB-4GB
* Watchdog Timer 0-512 seconds,RESET,IRQ or NMI
* Expansion PC104 Bus interface
* Battery Lituim 3V@560mAH
I/O
* Serial RS-232 portx2,RS-485 portx1
* USB USB1.1/2.0 portx1,support USB Mass-storage Disk Access
* Floppy support two 360K/720K/1.44M Floppy Drive
* Parallel support SPP/ECP/EPP mode
* Digital I/O 16-bit digital input/output
Mechanical & Environment
* Dimension 90mmx96mm
* Weight 60g
* Operating Tempreture -20~+70℃
* Operatiing Humidity 5%-90% relative Humidity,non-condensing
Power
* Power Supply Voltage +5V(±5%)
* Power consumption 600mA@5V
Offline
masih berkutat dengan embeded system mulai hardware dan softwarenya?!

Offline
lyan wrote:
wedeww... klo menurut gw sih... bener yg dibilang mas opik... Sebenernya tingkat kesalahan yg paling fatal dari pemilu indonesia neh adalah PROSES
tiap2 acara tuh kan ada urutan2 yg memang harus berjalan sesuai jadwal dan terencana.
memang sih..klo menurut gw... tuh udah hampir bener terjadi sejak pemilu 2004 dan 2009 ini.... namun... yg dianggap benar oleh mereka kan schedule time nyabukan proses yg menghasilkan dalam waktu yg telah ditentukan. qe 3x (Poli"tikus" Mode ON
)
Saya juga setuju cuma di tingkat mana kesalahan/kelemahan proses tersebut terjadi?
Kalau melihat pengalaman dua pemilu terakhir, yang paling fatal berkaitan dengan perhitungan adalah di tingkat TPS dan KPUD kabupaten/kota.
Perhitungan di tingkat TPS, terutama untuk pemilu legislatif, memakan waktu yang relatif lama, ada yang sampai 1 hari, bahkan ada yang diulang karena total suaranya berbeda dengan jumlah pemilih.
Perhitungan di tingkat KPUD kabupaten/kota, terutama untuk pemilu legislatif, memakan waktu yang relatif lama juga karena data suara setiap TPS dientri ke dalam komputer di tingkat ini. Kelambatan perhitungan suara di tingkat PPK juga menjadi penyebab kelambatan perhitungan dan entri data di tingkat KPUD kabupaten/kota.
Perubahan sistem pemungutan suara di tingkat TPS dengan menggunakan embedded system tentu akan menjadikan perhitungan suara di TPS menjadi seketika. Dampaknya ke perhitungan suara di tingkat kecamatan dan KPUD kabupaten/kota tentu sangat besar karena data dari TPS tinggal di-download dari embedded system.
Offline
lyan wrote:
klo untuk IT-support pemilu sih mungkin ada ide juga neh pak
mungkin boleh kita menggunakan jaringan komputer yg berbasiskan VPN dan sejenisnya, soalnya klo yg saya liat pemilu barusan yg menggunakan VPN telkom (Vsat) lumayan secured... hanya SDM dari KPU/KPUD nya aja yg dirasa sangat tidak proporsional (FAKTA neh). kemudian untuk di tiap2 TPS mungkin kita bisa mengandalkan sebuah aplikasi komputer yg bisa mendeteksi syncronisasi antara dbase DPT dengan input dari pemilu yg kemudian hasilnya ter-enkripsi. simple dan ga ribet, sementara untuk koneksi jaringan, yg udah saya liat di provinsi saya sih, tuh tiap visat nya terdapat di tiap2 KPUD kota dan kabupaten, mungkin untuk ditiap TPS nya bisa menggunakan jaringan secured VPN client based yg nilai desibelnya cukup tinggi (bahkan bisa menggunakan freq 5.0 Ghz) untuk lokasi TPS yg jauh dari Vsat di KPUD.
namun, untuk bisa mencapai hal kyk gitu mah, klo mau ngandalin SDM nya KPU/KPUD seperti yg sekarang gw GA JAMIN, yg ngeliat komputer error malah nyabut kabel power, bahkan H-1 masih ga tau applikasi yg bakalan dipake buat pemilu. Sudah selayaknya masyarakat IT tuh dilibatkan bersama KPU/KPUD, ga perlu meng-alokasikan dari luar provinsi, karna rasanya tiap2 provinsi di negara kita neh juga punya SDM2 IT yg bisa diandalkan.
Penerapan jaringan di tingkat KPUD kabupaten/kota, KPUD provinsi, dan KPU pusat saya setuju karena itu memang sudah dilaksanakan di dua pemilu terakhir dan dananya sudah dinggarkan.
Penerapan jaringan di tingkat TPS saya kurang setuju, alasannya adalah seperti telah saya kemukakan di posting terdahulu. Sinkronisasi Daftar Calon Tetap, Daftar Pemilih Tetap, dan Hasil Suara cukup dilakukan di KPUD kabupaten/kota dengan menggunakan jaringan komputer lokal tertutup.
Penggunaan jaringan komputer sampai ke tingkat TPS bukan saja memerlukan biaya tambahan yang cukup besar tetapi rawan terhadap klaim dari peserta pemilu. Kita/KPU dapat saja menyampaikan bahwa jaringan tersebut secure tapi peserta pemilu yang kalah boleh jadi akan tetap mempermasalahkannya. Jadi, kenapa harus mengeluarkan biaya tambahan yang cukup besar dengan mengundang masalah baru jika itu dapat dilakukan tanpa mengeluarkan biaya tambahan dan tidak mengundang masalah?
Offline
opikdesign wrote:
masih berkutat dengan embeded system mulai hardware dan softwarenya?!
Kalau mas opik jeli dengan usulan saya agar pengembangan software untuk embedded system dilakukan melalui suatu kompetisi dan kepada pemenangnya dijanjikan royalti sebesar 25 ribu rupiah per unit dan kepada 9 finalis lainnya, yang mau bergabung menyempurnakan rancangan juara tersebut, dijanjikan royalti sebesar 2,5 ribu rupiah per unit (total 47,5 ribu rupiah per unit) maka mas opik akan melihat peluang yang luar biasa bagi para programmer lokal untuk saling berkompetisi.
Saya yakin pesertanya akan membludak ribuan orang. Ingat jumlah unit embedded system yang akan digunakan adalah sekira 1 juta unit. Siapa yang tidak akan tergiur dengan hadiah sebesar 1 juta x 25 ribu rupiah = 25 milyar rupiah?
JIKA, sekali lagi JIKA kompetisi tersebut diadakan apakah mas opik akan melewatkan kesempatan tersebut? Kalau saya sih tidak akan melewatkan kesempatan tersebut. ![]()
Offline
mustofa wrote:
opikdesign wrote:
masih berkutat dengan embeded system mulai hardware dan softwarenya?!
Kalau mas opik jeli dengan usulan saya agar pengembangan software untuk embedded system dilakukan melalui suatu kompetisi dan kepada pemenangnya dijanjikan royalti sebesar 25 ribu rupiah per unit dan kepada 9 finalis lainnya, yang mau bergabung menyempurnakan rancangan juara tersebut, dijanjikan royalti sebesar 2,5 ribu rupiah per unit (total 47,5 ribu rupiah per unit) maka mas opik akan melihat peluang yang luar biasa bagi para programmer lokal untuk saling berkompetisi.
Saya yakin pesertanya akan membludak ribuan orang. Ingat jumlah unit embedded system yang akan digunakan adalah sekira 1 juta unit. Siapa yang tidak akan tergiur dengan hadiah sebesar 1 juta x 25 ribu rupiah = 25 milyar rupiah?
JIKA, sekali lagi JIKA kompetisi tersebut diadakan apakah mas opik akan melewatkan kesempatan tersebut? Kalau saya sih tidak akan melewatkan kesempatan tersebut.
waduh.... koq pembicaraannya mengarah komersial/mencari untung... klo semua di-uang-kan gak ada yg gak tergiur... kita diskusi bukan mencari keuntungan/bayaran semata tetapi membantu memberikan suatu pemikiran ke pemerintah khususnya KPU agar kinerjanya untuk masa depan lebih baik lagi...
maaf, sy tidak munafik dalam hal "uang", proyek apa aja saya "makan" tetapi bukan seperti memberi pemikiran dibalik jualan suatu produk... lain lagi klo membuka konsultan IT... apalagi publikasi seperti ini...
sekali mohon maaf pak mustofa...
smile... ![]()
Last edited by opikdesign (29-07-2009 21:11:16)

Offline
@ opikdesign
Open souce itu tidak identik dengan gratis kan? Bukankah para pengembang open source yang terkoordinasi, yang hasilnya dinyatakan gratis pun, dibayar oleh para donatur atau sponsornya?
Bukankah untuk sistem yang digunakan oleh KPU, seperti ICR(Intelligent Character Recognition), KPU berani membayar/membeli juga dan hasilnya tidak begitu memuaskan?
Nah, apa salahnya jika KPU berani mensponsori menyelenggarakan suatu kompetisi secara terbuka untuk mengembangkan sistem yang lebih baik? Melalui ajang tersebut maka sumbangan yang terjadi bukan hanya sebatas sumbangan pemikiran melainkan sampai ke tahap implementasi.
Jadi, apa yang saya sampaikan bukan "seperti memberi pemikiran dibalik jualan suatu produk" seperti yang mas opik sebutkan tetapi memberi pemikiran dengan alternatif cara mengujudkannya dan sekaligus mendorong banyak pihak untuk tertarik menyumbangkan pemikiran dan mengimplementasikannya secara konkret.
Sepertinya kan gak mungkin saya jualan SBC ke KPU. Untuk pengadaan barang sejumlah 1 juta unit tidak mungkin dilakukan oleh individu atau perusahaan kecil dan menengah. Yang akan bermain tentu adalah tingkat distributor utama atau bahkan KPU melakukan pemesanan ke vendor secara langsung. ![]()
Offline
kalo menurut saya, hal tersebut sangat mungkin dilakukan.
buktinya Inovasi Award yang diselanggarakan oleh salah satu merk rokok terbesar aja peminatnya banyak, dan menghasilkan karya2 inovatif.
saya setuju dengan pak mus, sudah saatnya rakyat dilibatkan dalam pesta rakyat (pemilu) ini, tidak saja sebagai peserta, namun bisa berkomtribusi dalam sistem penyelenggaraanya, serta inovasi dan pengembangannya.
saya pikir sudah saatnya kita keluar dari kebiasaan, menggunakan kertas suara, penghitungan manual dll.
skarang sudah bisa di replace dengan teknologi interaktif, sinkronisasi data dll.
bukankah teknologi diciptakan untuk memudahkan kehidupan manusia?
saya yakin, dengan pubikasi dan dukungan positif hal ini bisa terwujud. jadi ini bukan lah semata2 usulan untuk komersialisasi produk, namun lebih sebagai pandangan bahwa, pemilu ini bisa dilakukan dengan lebih baik, lebih cepat, dan lebih efisien dengan pemmanfaatan teknologi yang tepat.![]()

Offline
mustofa wrote:
@ opikdesign
Open souce itu tidak identik dengan gratis kan? Bukankah para pengembang open source yang terkoordinasi, yang hasilnya dinyatakan gratis pun, dibayar oleh para donatur atau sponsornya?
Bukankah untuk sistem yang digunakan oleh KPU, seperti ICR(Intelligent Character Recognition), KPU berani membayar/membeli juga dan hasilnya tidak begitu memuaskan?
Nah, apa salahnya jika KPU berani mensponsori menyelenggarakan suatu kompetisi secara terbuka untuk mengembangkan sistem yang lebih baik? Melalui ajang tersebut maka sumbangan yang terjadi bukan hanya sebatas sumbangan pemikiran melainkan sampai ke tahap implementasi.
ini gak ada masalah, say ok....
mustofa wrote:
Jadi, apa yang saya sampaikan bukan "seperti memberi pemikiran dibalik jualan suatu produk" seperti yang mas opik sebutkan tetapi memberi pemikiran dengan alternatif cara mengujudkannya dan sekaligus mendorong banyak pihak untuk tertarik menyumbangkan pemikiran dan mengimplementasikannya secara konkret.
setuju gak ada masalah tetapi jangan terlalu berkesan jualan.
mustofa wrote:
Sepertinya kan gak mungkin saya jualan SBC ke KPU. Untuk pengadaan barang sejumlah 1 juta unit tidak mungkin dilakukan oleh individu atau perusahaan kecil dan menengah. Yang akan bermain tentu adalah tingkat distributor utama atau bahkan KPU melakukan pemesanan ke vendor secara langsung.
loh koq jadi begitu?! saya tidak menuduh pak mustofa mo jualan ke KPU loh...
tapi klo bisa kenapa gak dipakai kesempatan ini?! dan kenapa tidak mungkin?! bisa juga jadi makelar istilah kasarnya....
si_faisal wrote:
kalo menurut saya, hal tersebut sangat mungkin dilakukan.
buktinya Inovasi Award yang diselanggarakan oleh salah satu merk rokok terbesar aja peminatnya banyak, dan menghasilkan karya2 inovatif.
saya setuju dengan pak mus, sudah saatnya rakyat dilibatkan dalam pesta rakyat (pemilu) ini, tidak saja sebagai peserta, namun bisa berkomtribusi dalam sistem penyelenggaraanya, serta inovasi dan pengembangannya.
saya pikir sudah saatnya kita keluar dari kebiasaan, menggunakan kertas suara, penghitungan manual dll.
skarang sudah bisa di replace dengan teknologi interaktif, sinkronisasi data dll.
bukankah teknologi diciptakan untuk memudahkan kehidupan manusia?
saya yakin, dengan pubikasi dan dukungan positif hal ini bisa terwujud. jadi ini bukan lah semata2 usulan untuk komersialisasi produk, namun lebih sebagai pandangan bahwa, pemilu ini bisa dilakukan dengan lebih baik, lebih cepat, dan lebih efisien dengan pemmanfaatan teknologi yang tepat.
setuju mas si_faisal... tapi yg sy maksud campur tangan rakyat terhadap pemilu dari semua permasalah yg sering terjadi di setiap pemilu yg artinya bukan hanya pengganti kertas surat suara tapi banyak hal masalah...
misalnya security pada jaringan antara KPP Tingkat Kecamatan ke KPUD dan sampai KPU juga bisa di sayembarakan koq... iya khan?!
bagaimana agar perhitungan bisa menjadi lebih cepat, effisien dan terjamin juga bisa disayembarakan ide-idenya...
bagaimana ide membuat jaringan murah meriah apalagi yg bisa "mobile" namun tetap aman dan terjamin, bisa di sayembarakan....
semua bisa disayembarakan... bukan hanya 1 permasalahan aja banyak hal...
@mustofa & si_faisal...
saya hanya mengajak memikirkan semua masalah pemilu bukan hanya itu-itu aja...
sy rasa sudah saatnya debat kusir ini dihentikan... monggo dilanjut terserah para om mod aja yg mo dibawah kemana arah diskusinya dan gak perlu dipermasalahkan lagi dari pemikiran yg dianggap gak guna...
selamat ber-discuss...
Last edited by opikdesign (30-07-2009 08:46:55)

Offline
kalau saya yang kebetulan terjun langsung di tingkat PPS dan PPK ternyata banyak sekali kendalanya. salah satunya adalah kurangnya sosialisasi atau bimbingan teknis terhadap petugas. Jika kasusnya seperti kemarin yang hanya menggunakan formulir untuk quick scan di KPUD saja banyak yang salah, gimana kalo dikasih teknologi yang lebih advanced ?
bisa dibanting - banting nanti alatnya karena "dianggap" nggak jalan ...![]()
Offline
ian wrote:
kalau saya yang kebetulan terjun langsung di tingkat PPS dan PPK ternyata banyak sekali kendalanya. salah satunya adalah kurangnya sosialisasi atau bimbingan teknis terhadap petugas. Jika kasusnya seperti kemarin yang hanya menggunakan formulir untuk quick scan di KPUD saja banyak yang salah, gimana kalo dikasih teknologi yang lebih advanced ?
bisa dibanting - banting nanti alatnya karena "dianggap" nggak jalan ...
nah... jelaskan masalahnya...
pilpres kemarin sy juga ikut mengawal dari tingkat PPS dan PPK...
masalahnya buanyak... mo dibahas yg mana?! ![]()

Offline
ian wrote:
kalau saya yang kebetulan terjun langsung di tingkat PPS dan PPK ternyata banyak sekali kendalanya. salah satunya adalah kurangnya sosialisasi atau bimbingan teknis terhadap petugas. Jika kasusnya seperti kemarin yang hanya menggunakan formulir untuk quick scan di KPUD saja banyak yang salah, gimana kalo dikasih teknologi yang lebih advanced ?
bisa dibanting - banting nanti alatnya karena "dianggap" nggak jalan ...
Masalah sosialisasi ya? Saya setuju itu memang merupakan kendala utama di lapangan, tidak saja bagi petugas tapi juga bagi pemilih, tapi bukan berarti tidak ada jalan keluarnya.
Sosialisasi itu tentu memerlukan waktu, itulah kenapa isu terhadap hal tersebut harus dikemukakan jauh hari sebelum pelaksanaan pemilu/pilkada.
Setidaknya ada tiga momen untuk melakukan sosialisasi dan uji-coba sistem tersebut, yaitu dalam pemilihan ketua RT, RW, dan kepala desa. Untuk para pemilih pemula, yang notabene adalah pelajar sma/smk atau dan mahasiswa, sosialisai tersebut dapat dilakukan/diujicobakan dalam berbagai aktifitas sekolah/kampus, seperti pemilihan ketua OSIS atau BEM.
Untuk keperluan tersebut, KPUD dapat melakukan sosialisasi dengan cara meminjamkan beberapa peralatan tersebut, secara bergilir. Dengan begitu maka semua pemilih telah pernah mencoba sistem tersebut jauh hari sebelum pelaksanaan pemilu/pilkada, begitu juga dengan para calon petugas PPS/PPK.
Penggunakan sistem pemungutan suara secara elektronis tersebut telah digunakan di India, Brazil, Belgia, dan beberapa negara lainnya. Hasilnya ternyata lebih cepat dan lebih baik dari sistem konvensional.
opikdesign wrote:
...masalahnya buanyak... mo dibahas yg mana?! big_smile
Silahkan bahas masalah yang menurut mas opik penting, semisal tentang pemikiran mas opik tentang penerapan jaringan komputer dari tingkat PPS sampai dengan KPUD kabupaten/kota. Jangan lupa berikan gambaran tentang biaya yang diperlukan untuk itu agar pihak KPU dapat mempelajari dan menganalisis kelayakannya.
Bisa juga mas opik mengemukanan berbagai kendala lain yang boleh jadi muncul di lapangan dengan adanya penerapan sistem baru tersebut dengan merujuk kepada kendala yang selama ini ada di lapangan.
Terima kasih.
Offline
@kang ian
berarti memang masalah utama disini adalah SDM,
seharusnya petugas pelaksana pemilu memang di training dengan serius, minimal 3 bulan dan dilakukan dengan intensif, dilakukan dengan studi kasus semua masalah2 yang ditemukan pada pemilu sebelumnya, dan bagaimana trouble shootingnya.
kalo hanya training 1-2 minggu, saya rasa nggak akan cukup, apalagi jika menggunakan teknologi advanced.
berarti pemerintah juga harus meyiapkan anggaran yang lebih besar untuk perekrutan panitia pelaksana yang berkualitas, serta training yang berkesinambungan.![]()

Offline
bagaimana kalo pake ide saya "mesin KTP" di thread mimpi? bisa kga tuh?
Offline
wah ikut nimbrung ya.. kebetulan saya aktivis salah satu parpol yang ikut pemilu (jadi calegnya lagi, tapi gak lolos) he he he OOT.
saya buka dengan analogi seperti ini, kenapa Unix/Linux masih menggunakan terminal? biar klasik katanya
... dan alasan2 lainnya.
nah, pemilu menggunakan kertas suara itu sudah kodratnya, gak usah dipikir untuk menggantinya dengan metode lain lah (mgk sampai 20 thn ke depan, atau lebih). apakah sudah ada negara yang menerapkan sistem embedded atau lainnya dalam pemilu? kalau pun ada negara itu pasti sudah 30 thn lebih maju dari indonesia, dengan jumlah penduduk yang tidak sampai 50 juta dan luas wilayah pasti tidak lebih besar dari pulau jawa... Indonesia? mimpi di atas mimpi kali, jumlah penduduk dan luas wilayah ke 4 di dunia, dengan kualitas SDM no 4 dari belakang
.
saya cerita sedikit kendala dari tahapan2 pemilu yang saya hadapi kemarin:
1. Pendaftaran pemilih: tidak efektif, sebab: KPU kurang sosialisasi (logika) AND masyarakat yang apatis, sibuk cari duit..
2. Sosialisasi Cara mencontreng: Kurang Banyak/efektif, sebab: Peralihan dari mencoblos ke mencontreng, terlalu besarnya kertas suara.
3. Kampanye: Banyak Kerussuhan antar pendukung, sampah berserakan.
4. Pemungutan dan Penghitungan suara di TPS, masalah: Intimidasi (mney politics, dan lainnya), Kesalahan saat mencontreng (poin no 2), terlalu lama menghitung, salah hitung (terlalu banyak kontestan, coba pemilu saat cuma 3 parpol kan tidak selama sekarang). pada tahap ini kecurangan hampir tidak ada, karena ada balancing dari panwaslu, saksi dari parpol, pemantau dari LSM dan masyarakat umum.
5. untuk tahapan selanjutnya tdk saya bahas lagi, karena sudah OOT sepertinya.
dari permasalahan yang saya temukan di lapangan, sya menarik kesimpulan kalo penggunaan kertas suara di tingkat TPS layak dipertahankan, untuk mengantisipasi permasalahan yang mungkin timbul (terlau lam menghitung dan kesalhan pemilih) dapat diminalisir dengan membatsi kontestan Pemilu dan sosialisasi cara memilih yang lebih intens juga KPU hrs konsisten dengan metode contreng, jangan 2014 nanti di rubah lagi dengan metode lain, tambah pusing masyarakatnya ![]()
saya sepakat dengan kang ian. di tingkat KPUD kabupaten saja penggungaan IT tidak efektif, apalagi harus sampai ke tingkat TPS. memang biaya percetakan surat suara bisa di tekan, tapi biaya maintanance sistem pasti besar, juga biaya admin/operator sistemnya sangat besar itu, belum lagi biaya sosialisasinya... Usul saya, kalo memang Sistem pemilu di ubah, usahakan perubahannya yang tidak melibatkan pemilih (yang jumlahnya 177 jt), pasti repot menanganinya.
sebagai ujicoba, coba terapkan sistem IT pada skala yang lebih kecil, pemilihan kepala desa misalnya (kalo di Aceh, semua kepala desa dipilih langsung oleh masyarakatnya seperti pilbup atau pilgub). kemudian di ujicoba lagi pada skala yang lebih besar.
juga di ujicoba untuk berbagai daerah. misalnya coba pada suku anak dalam di jambi, atau suku dayak di sanggau, kalbar, dan lainnya. coba bandingkan efektifitasnya...
sekian dulu, baru itu yang terpikirkan
Offline
@piccolo_ijo
Brazil, India, Belgia, dan Parlemen Eropa sudah menerapkan hal tersebut. Hasilnya positip.
CMIIW
Offline
mustofa wrote:
@piccolo_ijo
Brazil, India, Belgia, dan Parlemen Eropa sudah menerapkan hal tersebut. Hasilnya positip.
CMIIW
Baru tahu nih..
menurut saya kalo Brazil, belgia dan parlemen eropa sudah wajar. kalo India juga sudah melaksanakan sistem ini dan berhasil, itu bisa jadi acuan yang bagus buat Indonesia dimana beberapa karakeristik kedua negara hampir sama; Luas wilayah, jumlah penduduk, kualitas SDM, tiga huruf pertama nama negara (lho... apa hubungannya
)
Offline
ahahahahahahahaha
ada2 aja..iseng2 nih search thread...ktemu yg kek bgnian...
kalo yg gw liat dari negara2 yang sudah maju duluan dari kita...emg pada pke sistem touch screen...
tapi kalo d itung2 sih terlalu!!! terlalu mahal gtu loh..ahahahaha
knapa gk pke sistem LJK(lembar jawab komputer) selain biaya cetak lebih irit...(kalo cetak warna kan mahal sob...)apalagi kalo jumlah cetak banyak...wuihhh
sistem kerja pemilihan secara LJK...mungkin sedikit ribet..tapi aman loh!
1.scan KTP(KTP yang baru2 kan udah ada barcodenya.jadi d scan aja..mau KTP atau surat/kartu pemilih,sama saja...2 2nya bisa...)
2.LJK di beri nomor seri(lebih murah di banding coblos kertas warna..ahaha)
3.nomor seri LJK di simpan dalam data rahasia KTP(jadi kgk ada kata milih 2 kali/pemilihan terwakilkan)
4.LJK d scan...
yah....modal pensil 2B kan lebih murah daripada modal cetak kertas..ahahahahaha
tapi pensil jangan di bawa pulang buat anaknya yah..ahahahahaha
percetakan hanya mencetak foto2 caleg... jadi distribusi/lama kerja bisa di persempit..jumlah kertas yang di pakai juga lebih sedikit di bandingkan coblos kertas besar kan??sekali dayung 2 pulau terlampaui...(hemat pengeluaran negara + mengurangi 'global warming'...uangnya kan bisa d pake buat sumbangan/jatah APBD..jangan korup yah..ehehehehe)
kalo di hitung2 sih..kertas yang terpakai hanya sebesar voucher indosat yang 10.000.(sekitar 4X5 cm)..kecil bukan??
daripada ribet2 pake barang2 (komputer2) canggih tapi penggunanya tidak ngerti??
sistem yang sudah di pakai untuk ujian nasional kan okay..ahahahaha
coba di bandingkan jumlah pengeluaran untuk jumlah yang sama (pemilih dengan peserta ujian)
mana yang lebih murah??
Last edited by manyu62698 (08-12-2009 19:49:39)
Offline
kalau saya usul ga usah pake touch screen yang mahal pake aja HP yang bisa WAP aja, dibuat aplikasi online kasih username dan password tiap pemilih, dikasih sekuriti yang mantep jadi tiap satu username cuman bisa milih satu calon. alatnya HP semua orang punya, minjem administrasi yang nungguin TPS aja pasti punya. sistemnya real time, pake databasenya oracle dan bahasa pemogramannya java, biar stabil kalau data masuk bersamaan.
kalau pake LJK cost lingkungannya mahal bro, sekarang musimnya paperless.
CMIIW
Last edited by balaplumpat (26-08-2010 00:34:11)
Offline
si_faisal wrote:
menurut saya
akan lebih efisien kita membuat semacam Embeded Device untuk menggantikan surat suara
seperti kita tahu, surat suara cukup terkendala, sperti jumlah cetakan kurang, salah cetak, rusak, sobek, salah kirim dsb.
mending membuat perangkat Touchscreen 21" untuk menampilkan Foto/Pilihan secara slide show,
hal tersebut dirasa lebih efisien dan reusable (bisa dipakai lagi untuk pilkada, pilgub dll)
seharusnya KPU lebih memikirkan teknologi yang efisien untuk memperbaiki pemilu yang selama ini dianggap semakin ribet dan menghabiskan banyak biaya.
menurut rekan2 lebih nyaman contreng atau coblos?
bukan g ada minat tapi g mau
karena pola lama sangat menguntungkan untuk mereka.......
contoh......bisa dikorup terus selama belum ada orang yang terapin cita2 mulia kita
Offline